RELIGIUSITAS DALAM TRADISI BAPENO PASCA KEMATIAN DI DUSUN PONDOK TINGGI KOTA SUNGAI PENUH

Religiusitas Dalam Tradisi Bapeno

Penulis

  • Regina Dwi Maharani Universitas Jambi
  • Liza Septa Wilyanti Universitas Jambi
  • Nurfadilah Nurfadilah Universitas Jambi

DOI:

https://doi.org/10.33751/wahana.v31i2.22

Kata Kunci:

Bapeno; tradisi lisan; religiusitas; hermeneutika; dusun pondok tinggi

Abstrak

Penelitian tentang religiusitas dalam tradisi Bapeno pasca kematian di Dusun Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh, ini berfokus pada penafsiran tuturan adat yang berisi doa, nasihat, serta pesan moral dan spiritual yang disampaikan oleh Ninik Mamak dan Teganai Rumah dalam prosesi pascakematian. Tradisi Bapeno sebagai warisan lisan masyarakat Kerinci tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian adat istiadat, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai keagamaan yang menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menghadapi duka, mempererat ikatan sosial, dan menjaga kelangsungan adat istiadat. Latar belakang penelitian ini muncul dari kebutuhan untuk menafsirkan kembali muatan keagamaan tuturan Bapeno, terutama ketika generasi muda mulai mengalami kesulitan dalam memahami makna simbolik dan spiritualnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap nilai-nilai keagamaan yang tersembunyi dalam setiap tuturan Bapeno pasca kematian melalui pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data primer bersumber dari dokumentasi naskah Bapeno terbitan Lembaga Adat Dusun Pondok Tinggi dan data pendukung berupa wawancara dengan tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bapeno mencakup lima dimensi religiusitas: keyakinan, praktik ibadah, pengalaman spiritual, pengetahuan agama, dan konsekuensi moral. Doa-doa tersebut mencerminkan keimanan kepada Tuhan dan doa untuk keselamatan almarhum, sementara nasihat menekankan kesabaran, ketulusan, dan keteguhan iman bagi keluarga yang ditinggalkan. Bapeno tentunya sangat berperan dalam mempererat solidaritas sosial, menjaga kerukunan adat, dan meneguhkan jati diri keagamaan masyarakat Kerinci. Dengan demikian, tradisi Bapeno bukan sekadar ritual adat, tetapi juga sarana internalisasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat Pondok Tinggi.

 

Referensi

Anjarsari, D. (2020). Peran Tradisi Lisan Dalam Pelestarian Budaya Lokal di Indonesia. Jurnal Kajian Budaya, 8(2), 45-58.

Arikunto, S. (2006). Instrumen Penelitian: Alat Bantu Pengumpulan Data Yang Efektif. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 12(3), 45-52.

Bambang, S. (2021). Religiusitas Konsep, Pengukuran, dan Implementasi di Indonesia. Bibbliosmia Karya Indonesia.

Glock, C. Y., & Stark, R. (1965). Religion and Society in tension. Chicago: Rand McNally.

Grondin, J. (2012). Pengantar Hermeneutika Filosofis (terj. T. H. R. Wibowo). Yogyakarta: Kanisius.

Izkandar, Z. (1984). Tambo Sakti Alam Kerinci. Jilid 1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Karsiswan, J., Sari, L., R., & Azzahra, A. (2022). Sagata Sebagai Identitas Tradisi Lisan Masyarakat Lampung. Pangandereng: Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(2), 251-270.

Lovendo, T. (2019). Eksistensi Nilai-Nilai Parno Adat dalam Tradisi Masyarakat Kerinci Sebagai Alat Kontrol Sosial. 1-23.

Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Remaja Rosdakarya.

Novelia, T., & Salam, A. (2021). Eksistensi Umoh Gedua (Rumah Gedang) dalam Pelaksanaan Kenduri Sko Di Kecamatan Pondok Tinggi Tahun 2000-2013. Jurnal Kronologi, 3(4), 150-167.

Pajri, A., Fitrah, Y., & Warni. (2023). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Parno Adat Pernikahan dan Persepsi Masyarakat Tigo Luhah Semurup Kerinci: Suatu Kajian Sosiologi Sastra. Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, 13(2), 190-202.

Ravico, R. (2019). Menelusuri Tradisi Lisan Parno (Pangku Parbayo) Adat Desa Koto Majidin, Kabupaten Kerinci Sebagai Wujud Identitas Masyarakat. TAMMADUN: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam, 19(10), 1-15.

Ramadani, Y., & Yelnim (2020). Ritual Asyeik Pada Masyarakat Kelurahan Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh. Fikri, 5(1), 1-20.

Diterbitkan

2025-12-28

Cara Mengutip

Maharani, R. D. ., Wilyanti, L. S. ., & Nurfadilah, N. (2025). RELIGIUSITAS DALAM TRADISI BAPENO PASCA KEMATIAN DI DUSUN PONDOK TINGGI KOTA SUNGAI PENUH: Religiusitas Dalam Tradisi Bapeno. Media Bahasa, Sastra, Dan Budaya Wahana, 31(2), 79–87. https://doi.org/10.33751/wahana.v31i2.22